Mengenal Fotografi Minimalis di Pameran Komunitas Lingkara Photography Comunity

Oleh: redaksi,bor | 30 April 2017
Dibaca: 3640 Pengunjung

Mengenal Fotografi Minimalis di Pameran Komunitas Lingkara Photography Comunity

Ruang Pameran fotografi Komunitas Lingkara Photography Comunity di jalan Merdeka, Denpasar


DENPASAR, [www.citizenbali.com].  Ruang Pameran fotografi Komunitas Lingkara Photography Comunity di jalan Merdeka, Denpasar dipadati pengunjung pada Jumat, (28/4/2017). Ada yang datang bersama keluarga, sahabat dan ada juga yang sendiri. Mereka rupanya ingin menikmati pameran karya fotografi berkonsep minimalis dengan tema "Kontempoless" karya fotografer yang bernaung di bawah Komunitas Lingkara Photography Comunity, Denpasar.

 

Ada 10 karya dari 10 fotografer yang ditampilkan dalam pameran ini.  Mereka adalah Christina Arum  dengan karya the Windows, Candra Mpu Gimblond dengan karya Sosok, Ismail Ilmi karya dengan karya Grama, Ida Adi dengan karya Angin, Natex Raymond dengan karya slow Fire, Ngurah Satria Darmawangsa dengan karya I Am Watching You, Rudi Waisnawa dengan karya The Message, Suraman Alwi dengan karya Hovering Ink, Wahyu Supri Utomo dengan karya Sihoutte 2017 serta Sira Arya Gana dengan karya jbertemu di pojok. 

 

 

Kurator pameran Arif Bagus Prasetyo mengatakan aliran konsep minimalis yang diangkat Lingkara Fotografi comunity saat ini memang sedang trend baik di Indonesia maupun dunia internasional. 

 

Dari sisi konsep, minimalis memang terbilang baru, bahkan belum masuk kategori atau genre khusus dalam dunia fotografi. Tapi di situ menariknya, karena masih membuka ruang yang luas terhadap eksplorasi gagasan dan interpretasi.

 

"Fotografer tampilkan sisi paling esensial dari sebuah objek, intinya kesederhanaan," kata Arif. Walau konsepnya menampilkan kesederhanaan tapi dalam prakteknya dibutuhkan kerja keras maksimal.

 

Dari kesederhanaan ini bisa diinterpretasikan menjadi lebih luas dan berkembang ke mana-mana. Bahkan penikmat karya juga dapat merespon karya dengan interpretasinya sendiri. 

 

"Persepsi itu yang ingin disampaikan bagaimana sesuatu yang sederhana justru menyampaikan pesan yang kuat," ujar Arif. Dia mengambil contoh karya dari Candra Mpu Gimblond  (Sosok) dan Suraman Alwi (Hovering Ink). Pada karya Sosok objek yang dipotret adalah air terjun. Tapi dengan teknik minimalis justru memunculkan sosok -sosok tertentu. Begitu juga dengan karya Hovering Ink. Alwi memberi tafsir secara detail pada objek tinta yang diteteskan ke dalam air, sehingga bisa timbulkan macam-macam persepsi.

 

"Untuk mencapai itu tidak mudah, butuh keunikan sudut pandang fotografer sehingga hal biasa jadi istimewa," ujarnya.

 

Proses untuk menentukan foto yang dipamerkan membutuhkan waktu satu bulan. Masing-masing fotografer menyerahkan lima foto. Sesuai kesepakatan kurator hanya memilih satu karya untuk dipamerkan. 

 

 Ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi fotografer. Paling penting didiskusikan dulu perspektif mereka tentang fotografi minimalis. Bahkan disajikan secara tertulis. Kemudian kurator menilai sesuai karya sesuai konsep, komposisi serta unsur artistik.

 

"Beberapa awalnya saya tolak, setelah terus berproses Mala jadilah karya seperti yang dipamerkan sekarang," kata Arif.

 

Penyelenggara pameran Yan Palapa mengatakan pameran kali ini sebagai klaim komunitas Lingkara atas Definisi minimalis fotografi di tengah beragamnya definisi tentang hal itu. Masing-masing orang punya definisi. Lingkara memilih membebaskan tiap orang dengan definisinya masing-masing. [bor].





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Fans Page