VIDEO !. Penantian 48 Tahun, Hindu Banyuwangi Berani Bangkit dan Membangun Pura

Oleh: kristawan | 10 Juni 2017
Dibaca: 40304 Pengunjung

BANYUWANGI, www.citizenbali.com | Rahina Sukra Kliwon, Purnama Sadha (9 Juni 2017) merupakan hari bersejarah bagi umat Hindu Kabupaten Banyuwangi, khususnya Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi, Jawa Timur. Tepatnya di Dusun Senepo Lor desa setempat dilangsungkan upacara mlaspas dan ngenteg linggih di Pura Candi Merak Marga Mukti.

Suasana haru, kegembiraan umat Hindu setempatpun tak tertahankan ketika ribuan umat Hindu se Banyuwangi datang pedek tangkil ke Pura ini mengikuti semua prosesi upacara. Belum lagi undangan dari Bali yang turut hadir mengikuti semua prosesi upacara yang digelar secara Hindu dan berdasarkan dresta setempat.

Sesepuh pura, Bambang Mispan menuturkan ditahun 1969 didirikan candi yang disebut dengan candi merak, karena disebelah desa ada Bukit yang disebut dengan Bukit merak, karena dulunya ditempat ini adalah tempat habitanya burung merak. “Kami disini warga miskin, 90 persen penduduk hanya mengandalkan dari bekerja sebagai buruh tani, karena tidak memiliki lahan pertanian sendiri,” katanya. Dan untuk membangun pura, kami awalnya mengumpulkan urunan untuk membeli tanah dengan cara mencicil hingga empat kali, dari warga dan akhirnya tahun 1969 candi merak bisa didirikan.

Kemudian, ada keinginan umat untuk memperbesar areal candi dan ingin membangun Pura sebagai tempat kegiatan dan persembahyangan sehari-hari.   

“Awalnya pura kecil, hanya Padmasana. Lalu, kita mencicil membeli lahan lagi hingga empat kali secara swadaya,” kisahnya.

Kemudian, tahun 1975 mulai pembangunan lagi. Mendirikan dua pelinggih, masing-masing taksu dan panglurah, termasuk bale pawedan. Pembangunan terus berlanjut hingga 1986, mendirikan kori agung dan tembok penyengker. “Tapi saat itu, bangunannya belum megah. Sangat sederhana,” jelasnya.

Karena kondisi ekonomi, umat nyaris putus asa mampu membuat pura yang megah. Akhirnya, berkat donatur umat dari Bali, pembangunan hingga perluasan pura bisa terwujud.

Sejak Juli 2016, dilakukan pemugaran total. Mulai Padmasana, taksu, panglurah, kori agung hingga tembok penyengker. Termasuk, membangun sebuah candi di jeroan. “Candi ini untuk menstanakan leluhur. Sesuai filosofi Jawa,” jelasnya. Nama pura ini bermakna jalan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widi dan leluhur. Meski bangunanya baru selesai 90 persen, proses melaspas tetap dilakukan. Sebab, bangunan lama sudah dirombak total.

Upacara dipuput dua sulinggih, masing-masing Ida Pandita Dharmika Sandi Kertayasa dari Gria Anom Sari, Pesanggaran, Banyuwangi dan Ida Pandita Empu Nabe Rekadharmika Sandiyasa dari Gria Kertasari Kayu Mas Kaja, Denpasar.

Dalam upacara ini, semua dilakukan dalam keterbatasan umat. Mulai dari sarana yang sederhana, hingga gamelanpun sangat sederhana namun semangat mereka benar-benar membuat kita menitikkan air mata. Setelah prosesi upacara dilaksanakan kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama oleh seluruh umat Hindu.  Sehari sebelum melaspas, di Pura ini juga digelar upacara mepandes massal (potong gigi red).  Dengan diikuti oleh 100 umat Hindu setempat. 

Wabub Klungkung I Made Kasta Ikut Ngayah

Wakil Bupati Klungkung, I Made Kasta menghadiri undangan karya Melaspas dan Ngenteg Linggih di Pura Candi Merak Marga Mukti. Kedatangan Wabup Kasta didampingi Kabag Kesra Setda Kabupaten Klungkung, Wayan Winata dan Wakil Ketua TP PKK Klungkung, Ny. Sri Kasta disambut hangat Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi, Suminto, tokoh masyarakat serta pengempon pura. Bahkan Wabup yang pecinta seni ini ikut ngaturang ayah megambel mengiringi tari topeng bersama pengayah lainnya. 

 

Wakil Bupati Klungkung, Made Kasta mengapresiasi semangat krama/umat sedharma yang ada di Desa Barurejo dalam melaksanakan yadnya. Wabup berharap, melalui upacara ini warga senantiasa menjaga keharmonisan dan kerukunan. "Semoga upacara ini dapat berjalan lancar dan labda karya," ujar Wabup Kasta diakhiri dengan ngaturang punia ke panitia upacara.

 

Parade 15 Baleganjur

Usai gelaran upacara, kemudian dilangsungkan parade baleganjur yang diikuti oleh lima belas (15) baleganjur dari seluruh Banyuwangi. Uniknya tabuh gamelan baleganjur masing-masing hampir sama, tergantung banyaknya gamelan yang dimiliki.

Dan ada satu kreasi lagi yakni menggunakan piano yang suaranya diperbesar dengan menggunakan toa. Untuk mengangkutnya ada yang menggunakan gerobak dorong, ada juga dengan sepeda gayung yang dimodifikasi.  Ribuan umatpun mengikuti prosesi iring-iringan ini dari pura kemudian keliling desa dan kembali lagi kepura.

 

Ingin Majukan Umat  

Sebagai umat dengan berbagai keterbatasannya, setelah upacara ini selesai dilaksanakan, Pura akan menjadi tempat kegiatan umat. Mulai dari pesantian, pelajaran agama Hindu dan hal mengakifkan pemuda untuk berlatih seni gamelan tari dan semuanya untuk kegiatan keagamaan nantinya.

“Kami ingin bentuk koperasi umat, mudah-mudahan bisa terwujud,” sebut sesepuh Pura. Selain itu, jalan dusun yang belum tersentuh aspal ini juga diinginkan agar bisa diaspal oleh pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Tidak itu saja, seluruh warga Hindu Nusantara juga dipersilahkan datang ke dusun ini, selain bisa mengetahui kondisi umat Hindu dan kekerabatannya dengan lingkungannya juga bisa sembahyang dipura yang baru saja berdiri ini. [ist]. 





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Terpopuler
Fans Page