Keren ! Ini Kampung Mural Di Kediri

Oleh: | 02 Maret 2019
Dibaca: 145 Pengunjung

Keren ! Ini Kampung Mural Di Kediri

Kediri.Salah satu sudut perkampungan di Kota Kediri, ada pandangan yang sangat menarik perhatian, yaitu lukisan mural. Lukisan jenis ini, bertebaran di RW 02, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota.

Dari pengamatan Serda Abu Nur Arifin, Babinsa Koramil 01 Kota, berbagai wujud atau rupa lukisan mural, bisa dilihat didinding atau tembok hingga jalan perkampungan tersebut. Mural inilah yang menjadikan perkampungan yang dulunya biasa-biasa saja, berubah 180 derajat menjadi luar biasa. sabtu (2/3/2019)

Hasil penelusuran jejak mural, diketahui ada 2 orang yang menginisiasi muralisasi di salah satu sudut kampung di Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota. Keduanya adalah Dodot dan Siswanto, yang berinisiatif untuk mengungkapkan segala pandangan atau pemikiran kehidupan.

Mural sendiri, diambil dari bahasa latin, yaitu kata “Murus” yang berarti dinding, dan secara umum, mural bisa diartikan menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau sejenisnya.

Ditilik dari historisnya sendiri, mural sudah ada sejak jaman dulu, bahkan bila mengacu pada jejak-jejak purbakala ribuan hingga puluhan ribu tahun lalu, lukisan mural dapat ditemui di dinding-dinding goa, walaupun media cat atau pewarnanya berbeda dengan jaman sekarang.

Baik Dodot dan Siswanto, melakukan muralisasi tanpa ada sponsor utama, alias biaya pembuatan keluar dari kantong mereka berdua.Usai lukisan mural selesai dikerjakan, dijelaskan Dodot, mereka berdua sama sekali tidak menuntut bayaran atau uang lelah sekalipun.

Menurut Dodot, apa yang dilakukannya tidak lepas dari genre edukasi, dan edukasi diwujudkan dalam seni lukis mural. Diawal-awal, muralisasi yang dilakukan tidak semudah membalik telapak tangan, dan semua itu harus diawali dari diri sendiri sebelum ditularkan kepada orang lain. 

Mural berbeda dengan grafiti, walaupun secara pandangan sekilas, baik mural maupun grafiti terlihat sama. Grafiti, bisa diartikan lukisan yang mengutamakan komposisi warna, garis dan bentuk. Lukisan grafiti lebih condong pada gambar kata atau kalimat maupun simbol atau lambang, dan grafiti umumnya menggunakan cat semprot. Sedangkan mural, lukisannya lebih bebas dan luas, dalam artian tidak hanya sekedar lukisan kata maupun simbol.

Saat melakukannya, baik Dodot maupun Siswanto tidak asal-asalan atau mau menangnya sendiri, tetapi keduanya meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik dinding atau tembok. Terlebih lagi, lukisan mural ini dibuat tanpa membebani warga sama sekali.

Dikatakan Dodot, mereka menolak menerima bantuan berupa uang, tetapi mereka hanya menerima bantuan berupa cat dan kuas. Ia mengakui, ada beberapa warga yang perhatian, dengan memberikan bantuan berupa makanan dan minuman saat proses pelukisan.

Dari sosok yang digambarkan sebagai Dewi Sri, Saraswati, Jatayu dan Gajahmada terlihat sangat harmonis dengan keadaan lingkungan. Tak ketinggalan berbagai kata atau kalimat bijak dari WS Rendra, Kahlil Gibran dan Aristoteles ada di kampung mural ini.

Dulunya, mural dilukiskan sebagai bentuk kritik sosial, tetapi seiring berubahnya jaman, mural beralih menjadi objek promosi, sekaligus penghias tempat-tempat hiburan maupun tempat usaha. Bahkan, di era serba android saat ini, mural tidak lepas dari sorot kamera selfie. (dodik)





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Fans Page