Membidik Peluang Usaha Ketela Pohon

Oleh: | 12 Maret 2019
Dibaca: 111 Pengunjung

Membidik Peluang Usaha Ketela Pohon

Kediri.Ketela pohon mudah dijumpai ditiap-tiap desa, dan banyak yang beranggapan, tanaman ini sangat mudah ditanam dimana saja, sehingga tanaman yang satu ini hampir di setiap desa, dipastikan keberadaannya. Selain mudah ditanam, tanaman ketela pohon tidak terlalu ribet dan kecil sekali tanaman itu berstatus gagal panen.

Dari pantauan Pelda Kambali, Babinsa Koramil Mojo, dalam per 100“ro”-nya atau sekitar 1.400 meter persegi, rata-rata petani di Desa Blimbing, Kecamatan Mojo, bisa menghasilkan ketela pohon sebesar 4,8 ton hingga 5,6 ton sekali panen. Tanaman ini mudah sekali dijumpai di lereng-lereng Gunung Wilis dan cukup luas. senin (11/3/2019)

Menelusuri keberadaan tanaman ketela pohon yang ada di pekarangan rumah milik warga, umumnya tanaman yang satu ini sengaja ditanam untuk dikonsumsi sendiri, sehingga lahannya tidak terlalu luas. Berbeda bila lahan yang ditanami cukup luas, sudah dipastikan hasil ketela pohon dijual ke pasar.

Sementara itu, produk makanan berbahan utama ketela pohon sudah menjadi pemandangan umum di sekolah-sekolah, pasar, pertigaan atau perempatan jalan, serta tempat-tempat keramaian, dan ketela pohon ini dijual dalam wujud gorengan dengan sebutan “Telo Keju”.

Sebagaimana dijelaskan Yuli, warga Desa Keraton, Kecamatan Mojo, sehari-hari berprofesi sebagai pedagang kaki lima yang menjual telo keju, dalam seharinya, rata-rata Yuli mampu meraih omset mencapai Rp 180.000,- hingga Rp 300.000,-. Setiap harinya, Yuli harus merogoh kocek sebesar Rp 90.000,- untuk 30 kilogramnya hingga Rp Rp 150.000,- untuk 50 kilogramnya, bila mengacu pada harga dasar ketela pohon senilai Rp 3.000,- per kilogram.

Berbeda dengan Musini, warga Desa Keraton, Kecamatan Mojo, sehari-hari menjual makanan berbahan dasar ketela pohon dalam wujud gethuk. Ia membutuhkan 20 hingga 30 kilogram dalam seharinya, dan Musini harus mengeluarkan uang dikantongnya sebesar Rp 60.000,- hingga Rp 90.000,-. Untuk omset, Musini bisa meraup uang sebesar Rp 180.000,- hingga Rp 270.000,-.

Ketela pohon, dulunya identik dengan status “kemiskinan”, faktanya, status ini tidak berlaku di era sekarang. Pelda Kambali, membuktikan bahwa ketela pohon bisa menjadi makanan pokok tanpa harus menyandang status keluarga tidak mampu, dalam artian ekonomi.

Dijelaskan Pelda Kambali, bila kita mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan sedang dan berjalan dari titik 0 km perbatasan Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri hingga disekitaran puncak Gunung Wilis, perhatikan dengan seksama kanan kiri jalan.

Didepan rumah-rumah warga, banyak sekali yang mengeringkan tiwul atau gaplek diatas tampah. Ketika melihat banyaknya warga yang mengeringkan tiwul dan gaplek, perhatikan sekali lagi kondisi rumah warga dan keberadaan sepeda motor hingga kendaraan roda empat. Jelas sekali tidak sinkron bila kita berasumsi warga disini makan tiwul akibat faktor ekonomi yang terbatas.

Keberadaan tiwul di desa ini, bukan disebabkan faktor ekonomi mayoritas warga, tetapi sudah menjadi kebiasaan warga, dan tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan, karena hal ini tidak ada hubungannya sama sekali hal-hal yang erat kaitannya dengan keterbatasan keuangan rumah tangga.

Harga terkini ketela pohon, di pasar Mojo per satu kilogramnya mencapai Rp 3.000,-. Nominal tersebut tidak lantas baku atau permanen, tetapi bisa naik atau turun, tergantung kondisi harga pasar dari waktu ke waktu.

Harga tertinggi ketela pohon, bisa menembus angka Rp 4.000,- dan bisa turun mencapai angka Rp 2.000,-. Tetapi harga tersebut bukan angka relatif, karena harga ketela pohon bisa anjlok sewaktu-waktu atau sebaliknya, bisa naik diluar rata-rata nominal rupiah pada harga jual beli pasar tradisional.

Dari penelusuran ini, ada fakta potensi yang cukup menjanjikan dari tanaman ketela pohon, selain tidak terlalu ribet dan mudah sekali tumbuh berkembang, ketela pohon banyak diaplikasikan dalam wujud “jajanan”. Selain petani, tidak kalah pentingnya adalah peran dari pedagang kaki lima dalam mengembangkan budidaya tanaman ketela pohon. (dodik)





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Terpopuler
Fans Page