Menguak Candi Bersejarah Di Era Kerajaan Majapahit

Oleh: | 15 Maret 2019
Dibaca: 165 Pengunjung

Menguak Candi Bersejarah Di Era Kerajaan Majapahit

Kediri. Candi Tegowangi berlokasi di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, dan candi ini pernah mengalami pemugaran skala besar di tahun 1993 hingga 1994. Rekonstruksi pada bangunan ini juga pernah dilakukan atau tepatnya pasca erupsi gunung Kelud di tahun 2014. Hal ini dilakukan, karena banyak relief dan bagian candi yang rusak maupun tertutup pasir vulkanik. jumat (15/3/2019)

Eksplorasi seputar kejelasan riwayat candi ini, dilakukan Babinsa Tegowangi, Koptu Hendra Setiawan, dengan menemui langsung nara sumber yang kredibel. Sumber pertama diambil dari Nurali, juru kunci Candi Tegowangi, yang beralamat di RT 02 RW 02 Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri.

Sedangkan sumber referensi, diambil dari Budi Santoso, Riyanto, Haryono dan Erwin, keempatnya ini memiliki kredibilitas informasi yang dapat dipercaya, sekaligus menjadi rujukan.

Berdasarkan kitab Negarakertagama, Bhre Matahun meninggal pada tahun 1388 M, dan merujuk pada Kitab Pararaton, yang menunjukkan bahwa Candi Tegowangi berstatus Pendharmaan Bhre Matahun, diperkirakan candi ini dibangun pada tahun 1400 M atau 12 tahun setelah Bhre Matahun meninggal.

Dijelaskan, Nurali, pasca meninggalnya Bhre Matahun Kapisan, ditulislah Kidung Sudamala, yaitu kidung pensucian pada dinding-dinding pendharmaannya, dan Bhre Matahun sendiri, masih berstatus kerabat dekat Raja Hayam Wuruk.

Kakawin Sudamala berisi kisah pensucian Dewi Durga dari bentuk raseksi menjadi Dewi Uma. Pensucian ini dilakukan oleh Sadewa, bungsu dari Pendawa, dengan bantuan Bhatara Guru.

Pada masa hidupnya, Bhre Matahun pernah terserang penyakit aneh, dan di desa Tegowangi, ia disucikan Dang Hyang Mpu Smaranatha. Dari sinilah, Bhre Matahun berpesan kepada Dang Hyang Mpu Smaranatha, agar kelak bia dirinya meninggal, agar di dharmakan di tempat itu.

Dang Hyang Mpu Smaranatha, dikenal di era Kerajaan Majapahit dengan nama “Sabda Palon”. Ia sendiri dipercaya sebagai “Sang Pamomong Nusantara” yang setia mengabdi kepada raja-raja tanah Jawa.

Menukil informasi dari Budi Santoso, disebutkan dalam kitab Negarakertagama pada pupuh 82 (dalam terjemahan bahasa Indonesia), “Demikianlah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata. Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat Sri Paduka menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma. Serta Bibi Baginda patuh mengikuti niat Baginda Raja. Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan Sri Paduka sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.”

Kitab Negarakertagama ini ditulis Mpu Prapanca, dan merupakan sumber sejarah yang dapat dipercaya. Kitab Negarakertagama ini ditulis pada masa Kerajaan Majapahit, di bawah pemerintahan Sri Rajasanagara atau Raja Hayam Wuruk.

Sedangkan dalam tulisan modern, keberadaan Candi Tegowangi diabadikan lewat tulisan karya N.W. Hoepermans, R.D.M. Verbeek, J. Knebel dan P.J. Perquin, keempatnya menulis di awal-awal abad 20 atau sekitar tahun 1900an.

Dari informasi Haryono, Kitab Pararaton bagian kesepuluh, tertulis, (dalam terjemahan bahasa Indonesia) “Seri Ratu di Matahun wafat, dicandikan di Tigawangi, nama resmi candi itu Kusuma Pura.” Kitab Pararaton ini berstatus kitab Sastra Jawa yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi.

Kitab ini terdiri dari 32 halaman, dan secara keseluruhan terdiri dari 1126 baris. Kitab ini sendiri diawali dengan mengupas kisah kehidupan Ken Arok dari awal mula hingga menduduki tahta Kerajaan Singhasari, dan secara ringkas, kitab ini berisi kisah raja-raja tanah Jawa.

Menurut Riyanto, dikisahkan dalam Kitab Pararaton, Ken Arok dilahirkan dari seorang Brahma, dan saat dilahirkan Ibunya meletakkannya di atas sebuah kuburan. Konon, tubuh Ken Arok memancarkan cahaya dan menarik perhatian Ki Lembong. Setelah itu, Ki Lembong mengambilnya sebagai anak dan membesarkannya.

Kitab Pararaton pernah diteliti oleh seorang Belanda bernama Dr. Jan Laurens Andries Brandes di tahun 1896, dan hasil penelitiannya yang berjudul “Pararaton of Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit”.

Mengacu pada keterangan Erwin, ditilik dari bentuk, candi ini berbentuk bujursangkar menghadap ke arah barat, dan tiap sisi kaki candi ada tiga panel tegak yang berkarakter raksasa, sedangkan diatasnya terdapat tonjolan berukir yang melingkari.

Di tengah-tengah Candi Tegowangi, setiap sisinya terdapat pilar yang menghubungkan badan dan kaki candi. Di sekeliling candi terdapat relief Sudamala yang berjumlah 14 panel, dengan rincian 3 panel diutara, 8 panel dibarat dan 3 panel diselatan. Sedangkan dibilik tubuh candi terdapat Yoni dengan pancuran berwujud naga.

Keindahan bentuk maupun relief Candi Tegowangi tidak kalah dibanding candi-candi lainnya. Terlebih lagi, candi ini terkoneksi langsung dengan era Kerajaan Majapahit, dan tentunya tidak berlebihan bila candi yang satu ini menjadi salah satu objek wisata, sekaligus sejarah yang patut dikunjungi. (dodik)

 





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Terpopuler
Fans Page