Menjalin Persatuan Dan Kesatuan Dalam Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Dengan Lakon Dewa Ruci

Oleh: | 26 April 2019
Dibaca: 192 Pengunjung

Menjalin Persatuan Dan Kesatuan Dalam Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Dengan Lakon Dewa Ruci

Kediri.Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kota Kediri mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam rangka HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo ke-1059, sekaligus merayakan HUT Klenteng Tjoe Hwie Kiong. jumat (26/4/2019)

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Dewa Ruci” dan dalang kondang Rudi Gareng, diadakan dipelataran Klenteng Tjoe Hwie Kiong, serta disaksikan ratusan warga Kediri.

Dikatakan Prajitno Sutikno selaku pengurus klenteng, pagelaran wayang kulit ini diadakan dalam rangka HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo ke-1059 dan Klenteng Tjoe Hwie Kiong.

“Pertunjukan wayang ini kita adakan dalam rangka memperingati HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo ke-1059. Mak Co Tian Siang Sing Bo lahir pada tahun 960, kalau ditarik ke tahun 2019, ketemunya 1059. HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo kita adakan bersamaan dengan HUT klenteng, jadi satu acara dua tujuan,” kata Prajitno.

Tema yang diangkat pada peringatan HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo kali ini adalah “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”, dan seni wayang kulit sengaja dipilih sebagai upaya pelestarian budaya bangsa, sekaligus menyatukan antara budaya dengan kehidupan sosial masyarakat.

“Kita mengambil tema menjalin persatuan dan kesatuan. Ini kita ambil sebagai dasar kehidupan bermasyarakat di Kediri yang beraneka ragam, budaya, suku, agama. Kita mengadakan ini (wayang kulit) untuk melestarikan budaya, untuk menyatukan budaya dengan keanekaragaman masyarakat kita,” jelas Prajitno.

Sebagaimana laporan pandangan mata Babinsa Pakelan Serda Abu Nur arifin dan Babinkamtibmas Pakelan Aipda Beny, dalam pagelaran wayang kulit ini, pihak penyelenggara mengundang duo Jo Klitik dan Jo klutuk, serta Lusi Rahman, ketiganya hadir sebagai bintang tamu.

Inti sari lakon Dewa Ruci, dijelaskan Rudi Gareng, menceritakan perjalanan Bima mencari Tirta Pawitra atau Tirta Perwita Sari, guna mencapai kasampurnaning agesang  atau kesempurnaan hidup.

Cerita berawal dari tindakan Guru Drona atas bisikan Kurawa untuk melenyapkan Bima, dengan memberi mandat mencari Tirta Pawitra. Pencarian Tirta Pawitra ini dilakukan sebagai sarana membuka kesejatian dan kebenaran kehidupan di hutan Tibrasara di Gunung Candramuka.

Menurutnya, Dewa Ruci adalah gambaran bagi manusia agar mempunyai rasa bakti, patuh dan setia kepada semua guru. Seorang yang tidak berbakti, patuh dan setia kepada guru tidak akan bersinar di masyarakat.

Diakhir cerita, Bima melihat sinar kesucian yang belum pernah dilihatnya di dunia fana, dan saat itu juga Bima mendapatkan wejangan-wejangan dari Dewa Ruci tentang ngelmu kasunyatan di mana manusia harus bisa menjalani mati sajroning urip  dan urip sajroning mati.

“Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekesedur angkara. Dengan landasan eling percaya minuhu, manusia akan dapat melakukan memaju hayuning bawana,” kata Rudi Gareng.

Dijelaskan Halim, salah satu pengurus sekaligus operator seni barongsai dan liang liong Tjoe Hwie Kiong, lakon Dewa Ruci tersebut berisi nilai-nilai yang sangat dekat dengan ajaran filosofi. Nilai-nilai edukatif yang terdapat didalamya diambilkan dari tokoh-tokohnya.

“Perbuatan yang dilakukan oleh tokoh wayang sangat baik untuk dijadikan teladan, panutan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai edukatif dengan sendirinya merupakan akumulasi cipta, rasa, karsa yang diimplemetansikan dalam sikap, tingkah laku kita,” jelasnya.

Menurut keterangan Halim, pada tanggal 27 April atau besok malam, bakal digelar panggung gembira dan 28 April mendatang, diadakan jalan sehat. Kedua kegiatan tersebut diadakan di Klenteng Tjoe Hwie Kiong dan diselenggarakan dalam rangka HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo ke-1059. (dodik)





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Fans Page