“Semakin panjang durasi pelaksanaan tanpa target ketat, potensi kelelahan (fatigue) pada petugas lapangan maupun masyarakat akan semakin tinggi,” katanya.
Program pendataan di Kota Denpasar juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat atas peningkatan capaian data dalam satu minggu terakhir dengan kenaikan populasi terdata sebesar 21 persen.
Menurut Arya Wibawa, salah satu keunggulan Kota Denpasar adalah keberadaan balai banjar dan balai desa yang efektif menjadi wadah berkumpulnya masyarakat. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu mempercepat proses pendataan dibandingkan dengan pola penyisiran rumah ke rumah.
“Keunggulan utama daerah Denpasar terletak pada keberadaan Balai Banjar dan Balai Desa yang sangat efektif sebagai wadah kumpul masyarakat. Dibandingkan kota besar lain seperti Surabaya yang mengandalkan hingga 37.000 agen untuk melakukan penyisiran rumah ke rumah (canvassing/door-to-door), struktur adat dan kemasyarakatan di Denpasar memberikan efisiensi yang jauh lebih tinggi jika dimanfaatkan secara optimal,” papar Arya Wibawa.
Untuk mengejar target akumulatif minimal 60 persen atau sekitar 90.000 KK terdata dari posisi saat ini sekitar 35.000 KK, rakor tersebut menyepakati sejumlah penyesuaian operasional.
Para perbekel, lurah, serta kepala dusun/kaling diminta memperbarui jadwal turun lapangan. Seluruh jadwal aktivitas penjangkauan untuk satu minggu ke depan diwajibkan telah diperbarui (updated).
Selain itu, monitoring data dilakukan tiga kali sehari, yakni pukul 06.00 WITA, 18.00 WITA, dan 22.00 WITA. Pemantauan tersebut dilakukan untuk memetakan banjar atau wilayah yang mengalami penurunan aktivitas, khususnya pada malam hari.







